Just another WordPress.com site


Pulau Bali…ketika itu disebut yang pertama terlintas dalam benak hampir semua orang adalah julukannya yaitu Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura.
Pantai Kuta yang begitu terkenal ke seluruh pelosok dunia, berbagai macam seni budaya yang tiada duanya di planet ini. Hari raya Nyepi yang juga cuma satu-satunya ada di bumi ini yang sampai menarik perhatian dunia untuk ikut diterapkan dalam rangka mengurangi polusi yang kini sudah sangat memprihatinkan.
Selain itu, keindahan alam Bali yang masih begitu asri.
Seperti di Ubud dengan hamparan sawah terasering tampak begitu menyejukkan setiap mata yang memandang. Dan masih banyak lagi pesona serta keindahan-keindahan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Yang saya sayangkan ketika dunia pariwisata begitu berkembang sangat pesat tidak diimbangi dengan kemampuan mental kita sebagai orang Bali untuk dapat mengelola serta memanfaatkanya secara bijak, tanpa harus merusak tatanan budaya alam serta jati diri kita sebagai orang Hindu Bali yang terkenal luwes flexibel.

Jujur, modernisasi yang tidak siap kita terima akan melibas kita dikemudian hari. Munculnya berbagai pasar modern yang pemiliknya orang luar lama kelamaan akan menyingkirkan penduduk asli Bali. Pembangunan disektor pariwisata pun seolah tak terkendali yang kalau terus tak terkendali bisa membuat tatanan kota yang semrawut dan akan menimbulkan kemacetan yang semakin parah.
Satu lagi yang sering saya lihat dan membuat hari saya miris sedih adalah dijadikannya Pura yang amat kita sucikan sebagai tempat kita umat Hindu untuk memuja Keagungan Hyang Widhi Wasa dijadikan bagian tujuan wisata. Para guide rela menjual kesakralan Pura hanya demi helaian dolar. Ketika kita sembahyang di Pura Penataran Agung Besakih sering terliat para wisatawan dengan guidenya naik tangga yang kearah atas dari Pura Penataran Agung. Harusnya yang boleh masuk sampai kedalam areal pura cuma mereka yang punya tujuan ngaturang bakthi bukannya orang yang mau plesir dan jalan-jalan. Sungguh, kalau hal-hal yang terlihat kecil dan sepele seperti ini dibiarkan lama-lama kesucian Pura kita Umat Hindu akan tercemar.
Semoga saja Hyang Widhi mau menyadarkan umatnya untuk senantiasa ikut menjaga kesucian dan kesakralan tempat kita bersembahnya yaitu Pura. OM SHANTI SHANTI SHANTI OM…

Comments on: "Baliku dulu dan kini" (3)

  1. Pak, BLOG-nya bagus, kapan kapan ajarin saya juga yaa, BLOG saya simpel bingung mau nulis apa, hehe, makasi .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: